“Upaya pemerintah dalam mengurangi angka stunting sudah dilakukan melalui berbagai program, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, hingga saat ini masih terdapat kendala dalam pemantauan dan pengawasan berkala terhadap implementasi program MBG, khususnya dalam hal pemantauan yang lebih menyeluruh bagi KRS. Maka dari itu, SiPenting hadir untuk menjawab tantangan tersebut.”
Dadi Ahmad Roswandi, Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jawa Barat
BANDUNG | WARTAKENCANA.ID
Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangg)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dadi Ahmad Roswandi menilai salah satu perhatian utama dalam penurunan angka stunting di Jawa Barat adalah keberadaan keluarga berisiko stunting (KRS). Saat ini Jabar memiliki sedikitnya 1,6 juta KRS, dengan 207.189 di antaranya menjadi prioritas utama.
“Upaya pemerintah dalam mengurangi angka stunting sudah dilakukan melalui berbagai program, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, hingga saat ini masih terdapat kendala dalam pemantauan dan pengawasan berkala terhadap implementasi program MBG, khususnya dalam hal pemantauan yang lebih menyeluruh bagi KRS. Maka dari itu, SiPenting hadir untuk menjawab tantangan tersebut,” ungkap Dadi saat meluncurkan aplikasi Sistem Pemantauan dan Evaluasi Cegah Stunting (SiPenting) belum lama ini.
Dadi menjelaskan, SiPenting merupakan aplikasi yang hadir untuk memantau dan mendeteksi faktor risiko stunting pada intervensi spesifik program MBG untuk KRS, meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita nonpendidikan anak usia dini (non-PAUD). Aplikasi dijalankan oleh penyuluh keluarga berencana (PKB) dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) di desa atau kelurahan yang sama dengan domisili sasaran.
“Jadi, saat melakukan pengantaran MBG, teman-teman PKB/TPK tidak sekadar melakukan pengantaran saja, tetapi pada saat yang sama mereka juga dapat melakukan penyuluhan, pendampingan serta melakukan deteksi dan pendataan terhadap keluarga sasaran secara digital melalui aplikasi ini. Harapannya, SiPenting dapat membantu mengoptimalkan penurunan angka stunting di Jawa Barat,” ungkap Dadi.
Dadi berharap aplikasi SiPenting mampu menjadikan upaya penurunan angka stunting di Jawa Barat dapat lebih terfokus, sistematis, dan berkelanjutan. Dengan begitu, zero new stunting di Jawa Barat dapat terwujud. Lebih jauh lagi untuk menuju Indonesia Emas 2045 mendatang.
Tak lama setelah diluncurkan, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji langsung melakukan pemantauan sekaligus ujicoba aplikasi SiPenting. Pemantauan berlangsung di sela kunjungan kerja Menteri Wihaji ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 12 Juli 2025.
“Saya mengapresiasi dalam pengimplementasian aplikasi SiPenting ini di Jawa Barat. Semoga dengan SiPenting ini pemantauan kepada KRS lebih lebih fokus dan tersistematis. Jadi, apabila aplikasi ini bisa berhasil di tingkat provinsi, kenapa tidak akan diadopsi secara nasional,” ujar Wihaji.[N]

